Selasa, 22 Februari 2011

Membina Angkatan Mujahid


Risalah Ta’lim, peninggalan paling berharga Hasan Al Banna, merupakan buah pandang yang bernash dan jitu terhadap perjalanan sejarah, realitas umat, dan pemahamannya yang akurat tentang nash-nash syariat. Risalah Ta’lim terdiri atas mukadimah, dua bagian sub judul; ‘Rukun-rukun bai’at’ dan ‘kewajiban-kewajiban Seorang Mujahid’, dan penutup. Dalam dua bagian ini , Risalah Ta’lim merinci segala sesuatu yang diperlukan oleh setiap pribadi muslaim dewasa ini, agar tidak mengulangi sejarah masa lalu, di samping menjelaskan petunjuk-petunjuk untuk meniti masa depan. Membina angkatan Mujahid dikomentari beberapa bagian dari Risalah Ta’lim. Dalam buku ini dimuat tujuh bab yang isinya membicarakan tokoh Hasan Al Banna dalam kepastiannya sebagai peletak dasar tentang amal islami [gerakan islam] modern, kunci- kunci untuk memahami dakwahnya, tanggung jawab besar dalam dakwah ini, kemudian untuk membahas tujuan, berbagai sarana yang dipergunakan, fase-fase dakwah, pilar-pilar pembinaan kepribadian islam dan kewajiban-kewajibannya. Empat bab terakhir merupakan intisari pembahasan Risalah Ta’lim.
Hasan Al Banna sang peletak dasar teori gerakan Islam telah mengemukakan gagasan yang aplikatif dan dapat diterima muslim, dari awal sampai akhirnya. Hasan Al Banna memadukan antara hukum syariat dengan tuntutan zaman; antara cita-cita yang melangit seorang muslim dengan pandangan realistis yang ada di lapangan; antara kesempurnaan tarbiyah dan ta’lim dan aktivitas politik serta ekonomi; dan lain-lain hal yang memenuhi hajat kaum muslimin dewasa ini. Kesempurnaan yang menyeluruh seperti itulah yang diperlukan. Akan tetapi semuanya harus secara tulus dipersembahkan kepada Allah semata, dan dengan kekuasan Allah. Begitulah cara yang harus ditempuh, atau jika tidak demikian kita dengan seluruh bagian yang ada akan ditenggelamkan.
Hasan Al Banna merupakan pendiri pergerakan Ikhwanul Muslimin [selanjutnya disingkat IM] yang dianugerahi Allah keluasan cara pandang dalam pemikiran dan dakwah. Ada sejumlah prinsip umum dakwah ini agar dengannya kita dapat memahami kunci-kunci lain dari dakwah ikhwan dan permasalahannya.
  1. IM memahami bahwa dalam islam terdapat tujuan, sarana, khittah, sistem, kaidah-kaidah institusi, undang-undang, dan peraturan yang islami. Dengan itulah IM menginginkan menjadi hizbullah dan tentara sejatiNya.
  2. Ikhwan pada hakekatnya menegakkan komitmen Islam selain mengakomodasi kepentingan zaman dan jangkauan operasional seluas mungkin.
  3. Memelihara opini umum, baik di tingkat regional, nasional maupun internasional, merupakan salah satu prinsip Islam, IM berpijak padanya dan memberikan ruang lingkup yang secukupnya untuk memahami dengan benar.
  4. Ada dua hal yang dapat dicatat berkaitan dengan hal-hal yang dijadikan sebagai pegangan oleh ikhwan. Pertama, ia harus dibenarkan oleh syariat dan kedua ia harus sebanding dengan senjata musuh sehingga dapat mencapai tujuan.
  1. Prinsip yang menjadi pegangan ikhwan dalam kaitannya prinsip luar negeri adalah prinsip maslahah dengan maslahah, jika ada seseorang yang ingin berhubungan dengan kita atas dasar maslahah namun ditukar dengan prinsip maka harus ditolak.
  2. Semua wilayah pemerintahan Islam bagi ikhwan harus tunduk pada kekuasaan amirul mukminin dan seluruh perangkat pemerintahan pusat dalam perspektif undang-undang yang berlaku.
  3. Dalam pemerintahan Islam harus ada sistem sentralisasi untuk urusan global dan desentralisasi untuk urusan detailnya.

Berikut ini beberapa penjelasan tambahan tentang kunci dakwah ikhwan, yaitu:
Pertama hendaknya permasalan dakwah harus dipahami. Ada tiga persoalan yang perlu dicermati dengan baik; memahami dakwah, mendakwakannya, serta mentarbiyah dan menarik orang untuk mendukungnya.
            Kedua, dalam dakwah yang harus disentuhkan ke semua orang adalah pembicaraan tentang ruh, jiwa, hati akan dinamika, kebutuhan jiwa akan kebersihan, dan kebutuhan ruh akan pengabdian ikhlas kepada Allah.
            Ketiga, dalam konteks pemahaman akan kapasitas intelektual orang yang akan diajak bicara pembicaraan dan dakwah berlangsung.
            Tanggung jawab terbesar adalah melakukan tajdid [pembaharuan] dan naql [alih generasi]. Yakni pembaharuan ajaran Islam dan proses perubahan terhadap pribadi muslim dari satu kondisi ke kondisi yang lain dan perubahan umat Islam dari satu fase ke fase yang lain.
  1. Tentang IM, melalui penjelasa ustadz Hasan Al Banna, ada dua fonomena;
Pertama, ikhwan sebagai sebuah jamaah memusatkan perhatian pada pelayan umum.
Dua, ikhwan sebagai gerakan pembaharuan, inilah fokus terpenting IM.
  1. Mengubah umat sebagai prolog dari proses mengubah dunia tanggung jawab pertama jamaah adalah membangkitkan perasaan muslim tentang eksistensi keislamannya dan eksistensi jamaah. Dua tanggung jawab ini akan diketahui cara menunaikannya dengan benar setelah Risalah Ta’lim dipahami.

    Ustadz Hasan Al Banna mengatakan,’ingatlah selalu bahwa kalian memiliki 2 tugas pokok;
  1. Membebaskan negeri Islam dari semua kekuasaan asing
  2. Menegakkan di atas tanah air ini negara Islam yang merdeka, yang memberlakukan hukum-hukum Islam, menerapkan undang-undang sosialnya, memproklamirkan prinsip-prinsip dan nilai-nilainya, dan menyampaikan dakwah Islam dengan bijaksana kepada seluruh umat manusia.
Adapun tingkatan amal yang dituntut dari akh yang tulus adalah;
  1. Perbaikan diri sendiri
  2. Pembentukan keluarga muslim
  3. Bimbingan masyarakat
  4. Pembebasan tanah air dari setiap pengusa
  5. Memperbaiki keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik
  6. Untuk mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini untuk kemaslatan Islam
  7. Penegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwa Islam di seantero negeri.
TUJUAN IKHWAN SECARA RINCI
  1. Individu
Individu muslim yang kita inginkan adalah yang memiliki fisik kuat, mulia akhlaknya, berwawasan luas, giat berusaha, selamat akidahnya, benar ibadahnya, pejuang sejati, menjaga waktunya, tertib urusanya, bermanfaat bagi orang lain, mampu membimbing keluarga untuk menghormati fikrahnya, menjaga tata krama Islam dalam segenap kehidupan rumah tangganya, pandai memilih istri, pandai menjelaskan hak dan kewajiban istrinya, serta pandai mendidik anak-anak dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya dengan ajaran Islam.
Ia juga berjuang untuk mengembalikan khilafah yang hilang dan kesatuan yang diidam idamkan, juga berjuang untuk memandu dunia dengan menyebarkan dakwa islam di seantero wilayahnya.
  1. Rumah tangga
Rumah tangga muslim yang kita inginkan adalah rumah tangga yang suami dan istri di dalamnya mengetahui hak dan kewajibanya masing-masing, lalu mereka komitmen memeliharanya. Pandai mendidik anak-anak dan pembantu rumah tangganya dengan prinsip-prinsip Islam.
  1. Masyarakat muslim
Adalah masyarakat yang memiliki akal pikiran, hati dan perasaan islami, masyarakat yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
  1. Pemerintahan
Kita menghendaki tegaknya pemerintahan islami di semua kawasan islam. Tujuan ini memerlukan penjelasan rinci agar tidak terjadi kerancuan dan kesalahpahaman.
Pertama, Hasan Al Banna mengatakan, pemerintahan islam adalah pemerintah yang anggotanya orang-orang muslim, melaksanakan kewajiban, tidak bermaksiat secara terang-terangan dan melaksakan hukum-hukum islam.
Kedua, Hasan Al Banna mengatakan, tidak apa mengunakan orang-orang non muslim jika dalam keadaan terpaksa, yang penting mereka tidak didudukan dalam posisi pemimpin.
Ketiga, Hasan Al Banna mengatakan, Bentuk dan jenis pemerintahan tidak menjadi persoalan sepanjang sesuai dengan kaidah-kaidah umum dalam pemerintahan islam.
  1. Daulah Islamiyah
Adalah daulah inti. Menurut Hasan Al Banna daulah inti adalah daulah yang memimpin negara-negara Islam dan menghimpun ragan kaum muslimin, mengembalikan keagungannya, serta mengembalikan wilayah yang telah hilang dan tanah air yang dirampas. Maka penjelasan ini pula mencantumkan beberapa kewajiban daulah.
  1. Tegaknya Daulah dan Khilafah Islamiyah
Hasan Al Banna menyebutkan beberapa kewajiban-kewajiban daulah islamiyah;
    1. mengamalkan hukum-hukum isalm
    2. melaksanakan system sosial islam secara lengkap
    3. memproklamasikan prinsip-prinsip yang tegas ini
    4. menyampaikan dakwah islam dengan arif bijaksana
Yang perlu dicatat, Hasan Al Banna menganggap proklamasi khilafah secara resmi dilakukan pada tahap-tahap akhir saja demi memperoleh kemaslahatan yang banyak’
  1. Dunia seluruhnya hanya tunduk kepada Allah SWT
Hasan Al Banna berkata, kemudian daulah islamiyah itu mengibarkan panji-panji jihad dan dakwah, sehingga dunia seluruhnya akan menjadi berbahagia dangan ajaran islam. Daulah islamiyah juga bertanggung jawab untuk menjadi ’guru’ bagi dunia seluruhnya dan menyebarkan dakwah islam sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu semata-mata bagi Allah.

Ketujuh hal tersebut diatas saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Tegaknya suatu negara islam di suatu kawasan merupakan satu tahap untuk menegakkan pemerintah islam inti. Tahapan ini mempersiapkan tahapan berikutnya, yakni kesatuan islam, yang merupakan tahapan menuju tegakknya kekuatan islam internasional, dan ini merupakan tahapan bagi proses selanjutnya.

URAIAN TAMBAHAN
Kesimpulan uraian tambahan dalam bebeapa poin berikut:
  1. Kita adalah umat yang tidak memiliki kehormatan dan kemuliaan kecuali dengan islam
  2. Islamlah satu-satunya jalan keluar bagi seluruh persoalan kita
  3. Hanya dengan islamlah setiap orang terpenuhi kebutuhannya
  4. Persoalan penjajahan terhadap suatu negara tidak akan terselesaikan kecuali dengan menegakkan panji-panji islam dan mobilisasi jihad
  5. Kehidupan yang baru akan segera terwujud di dunia ini dengan kehadiran islam
  6. Islam memberikan keadilan pada seluruh warga negara yang syah di negeri islam dan melarang sikap zalim kepadanya, meskipun dia bukan seorang muslim.
  7. Penerapan islam bukan berarti pemasungan kenikmatan dunia yang bermanfaat.
  8. Penerpan islam itulah satu-satunya sarana yang dapat menghimpun kadar produktivitasnya, pembagian kekayaan alam, dan rasa tanggung jawab.

SARANA PADA TUJUAN PERTAMA
            Secara umum, sarana untuk membentuk pribadi muslim ini ada tiga, yang harus disatukan agar menghasilakn buah secara utuh yaitu murrabi[pembina], manhaj[sistem], dan lingkungan yang sehat.
            Seberapapun cacat yang menimpa salah satunya, ia akan berpengaruh terhadap munculnya cacat dalam proses pembentukan pribadi muslam yang paripurna, kecuali jika pribadi itu mendapatka sentuhan tangan/hidayah Allah secara langsung.

SARANA PADA TUJUAN KEDUA
            Sarana untuk mewujudkan keluarga muslim adalah;
  1. Setiap akh harus memberikan perhatian yang besar terhadap persoalan rumah tangganya
  2. Jamaah harus memberikan hak sewajarnya bagi aktivitas wanita.
  3. Setiap akh harus memilih istri yang sholihah.
  4. Seorang akh seyogyanya diikat dengan anak-anaknya, saudara-saudaranya, juga dengan perangkat-perangkat jamaah.
  5. Untuk tujuan ini seharusnya jamaah mendirikan unit-unit tertentu guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
  6. Jamaah dan individu harus memelihara bersama-sama rumah tangganya dari penyelewengan.
  7. Jamaah harus menyelenggarakan majelis-majelis untuk wanita di masjid-masjid
  8. pemimpin harus memberikan perhatian khusus terhadap buku tentang wanita.
  9. Sedapat mungkin jamaah harus menggalakan pernikahaan di kalangan anggotnya dan mau menikahi para janda.
  10. Semua ini harus terwujud sebelum dan sesudah tegaknya kekuasaan.

SARANA PADA TUJUAN KETIGA
Tujuan ketiga dari tujuan-tujuan kita adalah terwujudnya masyarakat muslim. Melalui pengadaan halaqoh baik yang umum maupun khusus di tengah masyarakat, melalui penyebaran buku-buku dan ceramah, melalui dialog rutin dengan semua pihak untuk mengingatkan mereka agar berkhitmat pada islam, memberikan pemahaman pada oang-orang non islam agar tidak takut pada islam, melalui pendalaman kepercayaan kepada pribadi dan jamaah kita bahwa ia sangat perhatian pada persoalan umat dan insya Allah dapat mengatasinya, melalui tarbiyah bagi setiap orang yang respek pada dakwah, melalui kreatifitas mewujudkan berbagai model lembaga yang tidak membiarkan seorang muslim pun kecuali pasti mendapatkan kebaikannya dan menjadikan semua arah politik yang menjadikan islam dapat memberikan sesuatu yang banyak bahkan berlebih, kita berharap masyarakat islam akan tegak.

SARANA PADA TUJUAN EMPAT
Jika jamaah ini yang dapat menghipun kekuatan aqidah dan iman, serta kekuatan persatuan dan ikatan menemukan sekelompok orang yang menegakkan islam, maka ia siap menjadi pasukan dan pendukungnya. Namun jika ia tidak menemukannya, ia akan berusaha mencari jalan ideal untuk menegakan islam. Cara itu antara lain  di parlemen, selama ini ia dapat menentukan personil ahlul halli aqli

SARANA PADA TUJUAN KELIMA
Sarana yang paling efektif untuk itu adalah menegakkan sebuah Negara islam yang besar, yang memiliki kekuatan pengaruh dalam bidang politik, ekonomi, tekhnologi, di sebagian besar wilayah bumi, atau di Negara yang memiliki wilayah territorial luas.

SARANA PADA TUJUAN KEENAM
Sarananya adalah melangkah di atas mukadimah yang benar, yakni tegaknya kaidah-kaidah yang benar, yang dari sanalah islam di berbagai wilayah bertolak.

SARANA PADA TUJUAN KETUJUH
Cara yang kita pergunakan adalah beraktifitas terus-menerus yang sesuai dan layak untuk memestikan bahwa dunia akan menerima dakwah.

Dalam Risalah ta’lim Hasan Al Banna mengatkan, tahapan dakwa ini ada tiga macam;
  1. TA’ARIF
Dalam tahap ini dakwah dilakukan dengan menyebarkan fikrah islam di tengah masyarakat. Adapun sistem dakwanya adalah, sistem kelembagaan. Urgensinya adalah kerja sosial bagi kepentingan umum, sedangkan medianya adalah nasehat dan bimbingan sekali waktu, serta membangun berbagai tempat yang berguna di waktu lain, juga berbagai media lainnya.
  1. TAKWIN
Sistem dakwah bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani san bersifat militer dalam tataran operasional. Slogan utama adalah totalitas ketaatan.
  1. TANFIDZ
Dakwah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin plan, kerja terus menerus untuk menggapai tujuan akhir, dan kesiapan menanggung cobaan dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya kecuali orang-orang yang tulus.

            Risalah Ta’lim adalah risalah gerakan. Risalah ini ditulis salaam rangka menjadi titik tolak setiap akh yang tulus dalam melangkah. Akh yang tulus adalah seseorang yang yakin kepada dakwah san berjanji memberikan apapun yang dibutuhkan olehnya dan komitmen kepada apa yang menjadi tuntutannya.
            Selanjutnya mengatakan, wahai ikhwan yang tulus, hafalkan rukun bai’at kita ada sepuluh; fahm, ikhlas, amal, jihad, tadhiyah, taat, tsabat, tajarrud, ukhuwah dan tsiqoh.
            Dalam masyarakat islam dikenal dua macam bai’at kepada penguasa muslim untuk mendengar dan taat dan bai’at kepada syikh yang bertaqwa.
            Rukun bai’at yang sepuluh adalah keniscayaan untuk menegakkan jamaah islam yang benar pada masa kini. Hal ini menjelaskan bahwa;
  1. rukun bai’at ini membutuhkan rincian penjelasan yang sesuai dengan zaman sekarang.
  2. bai’at di masa sekarang diberikan pada pemimpen lokal dari barisan shaf yang benar dengan pemahan bahwa bai’at diberikan kepada orang yang di atas peringkatnya
  3. shaf yang benar ini, dengan kepemimpinan yang benar pula, adalah dalam rangka menegakkan berbagai kewajiban.

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN SEORANG MUJAHID
            Hasan AL Banna berkata, imanmu pada bai’at ini mengharuskanmu menunaikan kewajiban-kewajiban berikut, sehingga engkau menjadi batu-batu yang kuat bagi bangunan.
Komentar;
  1. Kata wajib di atas bukan berarti wajib dalam pengertian syar’i tetapi berarti segala bentuk komitmen dakwah yang dituntut generasi muda masa kini.
  2. Kewajiban- kewajiban ini menjadi batu bata semakin kuat menjadi komponen bangunan. Ia mencakup kurang lebih semua sisi kepribadian seorang akh yang aktivis.
  3. Bai’at menuntut kerja yang sesuai dengannya.

            Risalah Ta’lim mempunyai kedudukan tersendiri dalam manhaj IM, demikian juga kedudukannya terhadap keanggotaan dalam tubuh jamaah ikwan. Agar pemerhati dari kalangan ikhwan tidak menganggap bahwa Risalah Ta’lim adalah segala sesuatu  dalam manhaj atau dalam hal keanggotaan. Beberap sub di bawah ini dijelaskan untuk melengkapi beberapa unsur pokok kepribadian islam yang dikendaki oleh IM.
Pertama, menjelaskan beberapa petunjuk yang harus dipelihara dalam setiap manhaj, tsaqofah, tarbiyah, takwiniyah dalam IM.
Kedua, tahapan-tahapan keanggotaan dan beberapa hal pokok di dalamnya
Ketiga, penjelasan beberapa standar dan pola
           
Masa pembinaan yang panjang dan penuh kesulitan merupakan proyek besar yang memerlukan tenaga dan potensi umat tanpa memperdulikan godaan-gaodaan di sekeliling kita. Tanpa pembinaan yang sempuran, kita akan tetap jauh dari tujuan, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Melalui pembinaan yang sempurna agar orang-orang yang masih memiliki kebaikan dalam dirinya merasa yakin pada pribadi-pribadi kita, menaruh kepercayaan pada jamaah dan percaya pada kebenaran yang diperjuangkan. Hal ini dilakukan semata-mata karena Allah dan hanya untuk Allah.

Selasa, 15 Februari 2011

Resume Tegar di Jalan Dakwah


            Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan. Bahkan jalan dakwah penuh kesulitan, amat banyak kendala dengan jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap aktivis dakwah, agar ia bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di perjalanan. Problematika yang dihadapai aktivis dakwah di medan perang sangatlah banyak, di antaranya kendala yang bersifat internal, yaitu gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktivitas, latar belakang dan masa lalu, penyesuaian diri, dan friksi internal. Sedemikian pentingnya menjaga orisinilitas dakwah, sehingga setiap gejolak yang muncul di kalangan para aktivis dakwah harus segera diselesaikan. Semuanya untuk menjaga kelangsungan gerak dakwah itu sendiri.
            Tawazun atau keseimbangan merupakan asas kehidupan. Jika terjadi ketidakseimbangan (‘adamu at-tawazun), pasti melahirkan ketidakbaikan. Ketidakseimbangan merupakan gejala yang melawan fitrah kehidupan., maka pasti akan menimbulkan kerusakan. Untu itulah, aktivis dakwah harus berada dalam kondisi penjagaan kesimbangan segala aspeknya, sehingga dakwah akan berjalan dengan lancar. Ada beberapa bentuk ketidakseimbangan yang biasa terjadi dalam kehidupan aktivis dakwah, di antaranya ketidakseimbangan antara aktivitas ruhaniyah dengan aktivitas lapangan, ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga, ketidakseimbangan antara aktivitas pribadi dengan organisasi, ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi, dan ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitsa SDM. Jika dilihat di antara penyebab ketidakseimbangan para aktivis dakwah adalah hal-hal berikut seperti pola kerja infiradiyah (single fighter), lemahnya perasaan mas’uliyah, kesalahaan cara pandang, kesalahan dalam membuat perhitungan, serta pembagian tugas yang buruk.
            Sangat penting untuk diperhatikan para aktivis adalah keseimbangan dalam segala sesuatu. Pada awalnya, para aktivis dakwah semestinya memiliki kehidupan ruhiyah yang mantap, sehingga kerja-kerja teknis keseharian tidak membuatnya merasa kering dan gersang. Hanya mereka yang kuat kehidupan ruhiyahnya sajalah yang terbebas dari kejenuhan. Para aktivis dakwah harus memiliki waktu khusus untuk meringankan beban-beban dakwahnya, dengan cara mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan suasana ruhaniyah yang mantap, para aktivis akan dapat menjaga keseimbangan perhatian dan aktivitas. Mereka tidak terjebak dalam perhitungan yang semu atau salah, yang bias mengelincirkan ke dalam ketidakseimbangan.
            Selain menempuh jalan keluar yang bersifat ruhaniyah, perlu pula ditempuh jalan keluar yang bersifat manajerial (idariyah). Salah satu penyebab ketidakseimbangan adalah pembagian tugas yang tidak bagus, maka cara lembaga dakwah menyelesaikan persoalan ini adalah dengan melakukan penataan ulang terhadap seluruh amanah yang telah diberikan kepada para aktivis. Untuk menyelesaikan kendala keidakseimbangan aktivitas ini secara manajerial, paling tidak ada tiga jalan yang bias ditempuh, yaitu musyawarah, pertimbangan yang utuh menyeluruh, dan partisipasi aktivis.
            Bagusnya latar belakang dan masa lalu yang dimiliki seorang aktivis dakwah merupakan modal yang mendukung suksesnya perjuangan di medan dakwah. Namun jika para aktivis dakwah tidak memiliki latar belakang kehidupan masa lalu yang baik, ada beberapa permasalahan yang bias muncul oleh karenanya. Adakalanya seseorang senantiasa dikaitkan dengan masa lalu yang buruk, padahal boleh jadi orang itu sudah berubah total dari kondisi semula. Adakalanya seseorang aktivis dakwah memiliki latar belakang keluarga yang tidak baik, lantas membuatnya tertekan dalam kondisi itu. Namun tentu saja masa lalu tidak adapat diubah, mengingat sudah menjadi kenyataan sejarah. Namun pengaruhnya yang harus bisa dikendalikan, agar tidak menjadi kontraproduktif dengan aktivitas dakwah. Beruntunglah mereka yang segera membersihkan diri.
            Dakwah adalah sebuah jalan panjang menapaki tahapan tertentu untuk menuju cita-cita besar yang telah ditetapkan. Dakwah tidak bias mencapai tujuan jika hanya berada dalam satu tahap saja, tanpa menapaki tahapan berikutnya. Inilah salah satu tuntutan dalam dinamika tahapan dakwah. Setiap gerak dakwah memulai tahapan baru, selalu ada tuntutan yang berbeda. Ada duaenergi yang harus dikeluarkan pada waktu yang bersamaan setiap kali gerakan dakwah berada dalam masa peralihan, dari tahapan sebelumnya menuju tahapan baru. Pertama adalah energi adaptasi atau penyesuaian diri, di mana setiap aktivis harus berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan tahapan baru. Yang kedua adalah energi aplikasi, yaitu energi untuk menunaikan amanah dakwah di masa peralihan tersebut. Dakwah harus tetap berjalan dengan lancer, kendati berada dalam masa peralihan tahapan.
            Ada kerumitan tertentu yang dialami pada aktivis dakwah setiap kali memasuki perubahan atau peralihan tahapan dakwah. Diperlukan kemampuan untuk menyesuaikan secara tepat mengingatdakwah tidak boleh berhenti dalam satu tahapan. Gerakan dakwah harus meniti berbagai tahapan hingga mencapai kemenangan. Gerakan dakwah tidak boleh terlalu asyik dalam satu tahapan sehingga enggan memasuki tahapan berikutnya. Namun masalah penyesuaian diri jangan diserahkan kepada kemampuan masing-masing aktivis dakwah. Lembaga dakwah memiliki peran yang sangat  besar dalam membantu para aktivis untuk melakukan penyesuaian diri. Kemampuan para aktivis untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan tahapan dakwah akan lebih mudah didapatkan, apabila gerakan dakwah melakukan upaya yang serius dan terprogram dalam setiap perkembangan tersebut.
            Indonesia merupakan sebuah Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Melihat satu realitas ini saja, sudah bias dibayangakan bahwa ada banyak potensi tersimpan di Indonesia, jika dakwah islam sanggup menumbuhkan dan mengoptimalkan potensi tersebut. Akan tetapi, era baru yang dimasuki bangsa Indonesia saat ini adalah era keterbukaan informasi, era perdagangan bebas, era teknologi, era globalisasi dan modernisasi, yang tentu saja membawa sejumlah dampak baik yang positif maupun negatif.
            Di antara problematika dalam dakwah di Indonesia saat ini adalah hal-hal yang menyangkut aspek spiritual dan kultural, di antaranya yaitu berhala-berhala modern, syirik, khurafat, takhayul di era teknologi, serta globalisasi dan dialektika kultural. Sesuatu yang sangat memperihatinkan dan memerlukan tindakan serius dalam dakwah di era baru, bahwa degradasi moral telah menunjukan gejala yang sangat parah. Berbagai bentuk dekadensi moral melanda bukan hanya di kalangan remaja, namun juga di kalangan anak-anak, orang tua bahkan para birokrat, teknokrat, dan politisi. Beberapa bentuk problematika moral yang dengan sangat mudah bias kita lihat dalam kehidupan keseharian yaitu mabuk, penyalahgunaan obat-obatan, penyelewengan seksual, perjudian, penipuan, tindak brutal, dan kekerasan. Selain problematika yang bersifat spiritual, cultural, dan juga moral. Masih ada problematika dakwah islam di Indonesia pada era baru ini, yaitu problematika sistemik. Di antara problematika yang bersifat sistemik adalah korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kebodohan, dan disintegrasi bangsa.
            Tak bias dipungkiri bahwa Islam datang dengan sebuah kenyataan ilahiyah, bahwa kemenangan adalah kepastian yang telah ditetapkan untuknya. Namun, di balik itu ada beban yang dilimpahkan kepada setiap muslim untuk merealisasi Islam di muka bumi. Ada beberapa faktor yang perlu dimiliki para aktivis dakwah agar mampu konsisten berjuang di jalan Allah sepanjang hidupnya. Ada lima faktor sedikitnya jalan untuk merealisir daya tahan di medan dahwah tersebut yaitu, menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat keimanan, mengganlkan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan soliditas struktur.
            Jika ada aktivis dakwah dicaci maki banyak kalangan, difinah dengan tuduhan keji, dilukai tubuhnya, ditangkap, dan dipenjara, diusir dari tanah kelahiran, dibunuh karakternya disebabkan oleh dakwah yang dilakukan, hendaklah senantiasa bersikap sabar. Sesungguhnya seluruh mihnah itu merupakan bagian dari kecintaan Allah untuk menarbiyah para aktivis dakwah, agar mereka semakin dewasa dalam melangkah dan lebih membersihkan mereka dari anasir-anasir yang tidak diperlukan dalam dakwah.
            Ketika syakhshiyah telah terbentuk, dan persiapan telah dilakukan sebaik mungkin menurut perhitungan manusiawi maka segera minhah akan bisa ditanggung secara ikhlas tanpa beban. Lihatlah para mu’assis dakwah Islam, mereka senantiasa tegar menghadapi berbagai cobaan yang menimpa, baik bersifat individu maupun sistemik. Kematian adalah resiko yang menyenangkan, sebab pahalanya telah pasti bagi setiap pejuang kebenaran. Apabila resiko tertinggi ini telah diperhitungkan, sementara segala perangkat teknis gerak telah dirancang rapi, rasa-rasanya tidak satu pun alasan bagi para aktivis dakwah untuk enggan dan ragu menempuh perjalanan panjang di medan dakwah. Tegar di jalan dakwah meliputi tegar menghadapi ejekan, tegar dalam menghadapi gelombang fitnah, tegar dalam menghadapi terror fisik, tegar dalam menghadapi manisnya rayuan, tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, tegar dalam kondisi kekurangan, tegar dalam kemapanan, serta tegar di puncak kekuasaan.***