Selasa, 15 Februari 2011

Resume Tegar di Jalan Dakwah


            Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan. Bahkan jalan dakwah penuh kesulitan, amat banyak kendala dengan jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap aktivis dakwah, agar ia bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di perjalanan. Problematika yang dihadapai aktivis dakwah di medan perang sangatlah banyak, di antaranya kendala yang bersifat internal, yaitu gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktivitas, latar belakang dan masa lalu, penyesuaian diri, dan friksi internal. Sedemikian pentingnya menjaga orisinilitas dakwah, sehingga setiap gejolak yang muncul di kalangan para aktivis dakwah harus segera diselesaikan. Semuanya untuk menjaga kelangsungan gerak dakwah itu sendiri.
            Tawazun atau keseimbangan merupakan asas kehidupan. Jika terjadi ketidakseimbangan (‘adamu at-tawazun), pasti melahirkan ketidakbaikan. Ketidakseimbangan merupakan gejala yang melawan fitrah kehidupan., maka pasti akan menimbulkan kerusakan. Untu itulah, aktivis dakwah harus berada dalam kondisi penjagaan kesimbangan segala aspeknya, sehingga dakwah akan berjalan dengan lancar. Ada beberapa bentuk ketidakseimbangan yang biasa terjadi dalam kehidupan aktivis dakwah, di antaranya ketidakseimbangan antara aktivitas ruhaniyah dengan aktivitas lapangan, ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga, ketidakseimbangan antara aktivitas pribadi dengan organisasi, ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi, dan ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitsa SDM. Jika dilihat di antara penyebab ketidakseimbangan para aktivis dakwah adalah hal-hal berikut seperti pola kerja infiradiyah (single fighter), lemahnya perasaan mas’uliyah, kesalahaan cara pandang, kesalahan dalam membuat perhitungan, serta pembagian tugas yang buruk.
            Sangat penting untuk diperhatikan para aktivis adalah keseimbangan dalam segala sesuatu. Pada awalnya, para aktivis dakwah semestinya memiliki kehidupan ruhiyah yang mantap, sehingga kerja-kerja teknis keseharian tidak membuatnya merasa kering dan gersang. Hanya mereka yang kuat kehidupan ruhiyahnya sajalah yang terbebas dari kejenuhan. Para aktivis dakwah harus memiliki waktu khusus untuk meringankan beban-beban dakwahnya, dengan cara mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan suasana ruhaniyah yang mantap, para aktivis akan dapat menjaga keseimbangan perhatian dan aktivitas. Mereka tidak terjebak dalam perhitungan yang semu atau salah, yang bias mengelincirkan ke dalam ketidakseimbangan.
            Selain menempuh jalan keluar yang bersifat ruhaniyah, perlu pula ditempuh jalan keluar yang bersifat manajerial (idariyah). Salah satu penyebab ketidakseimbangan adalah pembagian tugas yang tidak bagus, maka cara lembaga dakwah menyelesaikan persoalan ini adalah dengan melakukan penataan ulang terhadap seluruh amanah yang telah diberikan kepada para aktivis. Untuk menyelesaikan kendala keidakseimbangan aktivitas ini secara manajerial, paling tidak ada tiga jalan yang bias ditempuh, yaitu musyawarah, pertimbangan yang utuh menyeluruh, dan partisipasi aktivis.
            Bagusnya latar belakang dan masa lalu yang dimiliki seorang aktivis dakwah merupakan modal yang mendukung suksesnya perjuangan di medan dakwah. Namun jika para aktivis dakwah tidak memiliki latar belakang kehidupan masa lalu yang baik, ada beberapa permasalahan yang bias muncul oleh karenanya. Adakalanya seseorang senantiasa dikaitkan dengan masa lalu yang buruk, padahal boleh jadi orang itu sudah berubah total dari kondisi semula. Adakalanya seseorang aktivis dakwah memiliki latar belakang keluarga yang tidak baik, lantas membuatnya tertekan dalam kondisi itu. Namun tentu saja masa lalu tidak adapat diubah, mengingat sudah menjadi kenyataan sejarah. Namun pengaruhnya yang harus bisa dikendalikan, agar tidak menjadi kontraproduktif dengan aktivitas dakwah. Beruntunglah mereka yang segera membersihkan diri.
            Dakwah adalah sebuah jalan panjang menapaki tahapan tertentu untuk menuju cita-cita besar yang telah ditetapkan. Dakwah tidak bias mencapai tujuan jika hanya berada dalam satu tahap saja, tanpa menapaki tahapan berikutnya. Inilah salah satu tuntutan dalam dinamika tahapan dakwah. Setiap gerak dakwah memulai tahapan baru, selalu ada tuntutan yang berbeda. Ada duaenergi yang harus dikeluarkan pada waktu yang bersamaan setiap kali gerakan dakwah berada dalam masa peralihan, dari tahapan sebelumnya menuju tahapan baru. Pertama adalah energi adaptasi atau penyesuaian diri, di mana setiap aktivis harus berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan tahapan baru. Yang kedua adalah energi aplikasi, yaitu energi untuk menunaikan amanah dakwah di masa peralihan tersebut. Dakwah harus tetap berjalan dengan lancer, kendati berada dalam masa peralihan tahapan.
            Ada kerumitan tertentu yang dialami pada aktivis dakwah setiap kali memasuki perubahan atau peralihan tahapan dakwah. Diperlukan kemampuan untuk menyesuaikan secara tepat mengingatdakwah tidak boleh berhenti dalam satu tahapan. Gerakan dakwah harus meniti berbagai tahapan hingga mencapai kemenangan. Gerakan dakwah tidak boleh terlalu asyik dalam satu tahapan sehingga enggan memasuki tahapan berikutnya. Namun masalah penyesuaian diri jangan diserahkan kepada kemampuan masing-masing aktivis dakwah. Lembaga dakwah memiliki peran yang sangat  besar dalam membantu para aktivis untuk melakukan penyesuaian diri. Kemampuan para aktivis untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan tahapan dakwah akan lebih mudah didapatkan, apabila gerakan dakwah melakukan upaya yang serius dan terprogram dalam setiap perkembangan tersebut.
            Indonesia merupakan sebuah Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Melihat satu realitas ini saja, sudah bias dibayangakan bahwa ada banyak potensi tersimpan di Indonesia, jika dakwah islam sanggup menumbuhkan dan mengoptimalkan potensi tersebut. Akan tetapi, era baru yang dimasuki bangsa Indonesia saat ini adalah era keterbukaan informasi, era perdagangan bebas, era teknologi, era globalisasi dan modernisasi, yang tentu saja membawa sejumlah dampak baik yang positif maupun negatif.
            Di antara problematika dalam dakwah di Indonesia saat ini adalah hal-hal yang menyangkut aspek spiritual dan kultural, di antaranya yaitu berhala-berhala modern, syirik, khurafat, takhayul di era teknologi, serta globalisasi dan dialektika kultural. Sesuatu yang sangat memperihatinkan dan memerlukan tindakan serius dalam dakwah di era baru, bahwa degradasi moral telah menunjukan gejala yang sangat parah. Berbagai bentuk dekadensi moral melanda bukan hanya di kalangan remaja, namun juga di kalangan anak-anak, orang tua bahkan para birokrat, teknokrat, dan politisi. Beberapa bentuk problematika moral yang dengan sangat mudah bias kita lihat dalam kehidupan keseharian yaitu mabuk, penyalahgunaan obat-obatan, penyelewengan seksual, perjudian, penipuan, tindak brutal, dan kekerasan. Selain problematika yang bersifat spiritual, cultural, dan juga moral. Masih ada problematika dakwah islam di Indonesia pada era baru ini, yaitu problematika sistemik. Di antara problematika yang bersifat sistemik adalah korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kebodohan, dan disintegrasi bangsa.
            Tak bias dipungkiri bahwa Islam datang dengan sebuah kenyataan ilahiyah, bahwa kemenangan adalah kepastian yang telah ditetapkan untuknya. Namun, di balik itu ada beban yang dilimpahkan kepada setiap muslim untuk merealisasi Islam di muka bumi. Ada beberapa faktor yang perlu dimiliki para aktivis dakwah agar mampu konsisten berjuang di jalan Allah sepanjang hidupnya. Ada lima faktor sedikitnya jalan untuk merealisir daya tahan di medan dahwah tersebut yaitu, menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat keimanan, mengganlkan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan soliditas struktur.
            Jika ada aktivis dakwah dicaci maki banyak kalangan, difinah dengan tuduhan keji, dilukai tubuhnya, ditangkap, dan dipenjara, diusir dari tanah kelahiran, dibunuh karakternya disebabkan oleh dakwah yang dilakukan, hendaklah senantiasa bersikap sabar. Sesungguhnya seluruh mihnah itu merupakan bagian dari kecintaan Allah untuk menarbiyah para aktivis dakwah, agar mereka semakin dewasa dalam melangkah dan lebih membersihkan mereka dari anasir-anasir yang tidak diperlukan dalam dakwah.
            Ketika syakhshiyah telah terbentuk, dan persiapan telah dilakukan sebaik mungkin menurut perhitungan manusiawi maka segera minhah akan bisa ditanggung secara ikhlas tanpa beban. Lihatlah para mu’assis dakwah Islam, mereka senantiasa tegar menghadapi berbagai cobaan yang menimpa, baik bersifat individu maupun sistemik. Kematian adalah resiko yang menyenangkan, sebab pahalanya telah pasti bagi setiap pejuang kebenaran. Apabila resiko tertinggi ini telah diperhitungkan, sementara segala perangkat teknis gerak telah dirancang rapi, rasa-rasanya tidak satu pun alasan bagi para aktivis dakwah untuk enggan dan ragu menempuh perjalanan panjang di medan dakwah. Tegar di jalan dakwah meliputi tegar menghadapi ejekan, tegar dalam menghadapi gelombang fitnah, tegar dalam menghadapi terror fisik, tegar dalam menghadapi manisnya rayuan, tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, tegar dalam kondisi kekurangan, tegar dalam kemapanan, serta tegar di puncak kekuasaan.***   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar